Senin, 11 Desember 2017

SIKAP



Sikap adalah kondisi mental yang relatif menetap untuk merespon suatu objek atau perangsang tertentu yang mempunyai arti, baik bersifat positif, atau negative menyangkut aspek-aspek kognisi, afeksi, dan kecenderungan untuk bertindak.
Komponen sikap :
1.      Unsur Kognisi, terdiri atas keyakinan atau pemahaman individu terhadap objek-objek tertentu.
2.      Unsur Afeksi, menunjukkan perasaan yang menyertai sikap individu, terhadap suatu objek.
3.      Unsur kecenderungan bertindak, meliputi seluruh kesediaan individu untuk bertindak/mereaksi terhadap objek tertentu.
Pembentukan sikap ;
1.      Faktor pengalaman khusus, hal ini artinya suatu objek terbentuk melalui pengalaman khusus
2.      Faktor Komunikasi dengan oranglain,, sikap individu yang terbentuk disebabkan oleh adanya komunikasi dengan oranglain.
3.      Faktor Model, banyak sikap terbentuk karena adanya sesuatu itu dengan model dirinya.

4.      Faktor lembaga-lembaga sosial, suatu lembaga dapat juga menjadi sumber yang mempengaruhi terbentuknya sikap. 

FRUSTASI


            Frustasi dapat diartikan kekecewaan, dalam diri individu yang disebabkan oleh tidak tercapainya keinginan-keinginan. Pengetian lain dari frustasi adalah “rasa kecewa yang mendalam, karena tujuan yang dikehendaki tak kunjung terlaksana”
Sarwono mengelompokkan menjadi 3 golongan :
1.      Frustasi Lingkungan, yaitu frustasi yang disebabkan oleh rintangan yang terdapat dalam lingkungan. Misalnya, seorang pria yang sudah merencanakan perkawinan.
2.      Frustasi Pribadi, yaitu frustasi yang timbul dari ketidakmampuan orang itu mencapai tujuan. Dengan kata lain, frustasi tersebut timbul karena adanya perbedaan keinginan dengan tingkat kemampuannya.
3.      Frustasi Konflik, yaitu frustasi yang disebabkan oleh konflik dari berbagai motif dalam diri seseorang.
Wujud-wujud cara individu dalam mereaksi frustasi ;
1.      Agresi Marah, akibat tujuan yang tidak dapat dicapai individu menjadi marah-marah dirinya maupun terhadap sesuatu diluar dirinya.
2.      Bertindak secara eksplosif, dengan jalan melakukan perbuatan yang eksplosif, baik dengan perbuatan jasmaniah maupun dengan ucapan-ucapan.
3.      Dengan cara introversi, menarik diri dari dunia nyata.
4.      Perasaan tak berdaya, berlawanan dengan agresi marah.
5.      Kemunduran,tingkah laku kekanak-kanakan.
6.      Fiksasi, mengulang kembali sesuatu yang menyenangkan.
7.      Penekanan, menekan pengalaman traumatis, keinginan, kekesalan, atau ketidaksenangan ke alam tidak sadar.
8.      Rasionalisasi, usaha mencari dalih pada orang lain untuk menutupi kesalahan.
9.      Proyeksi, reaksi individu melemparkan sebab kegagalannya kepada oranglain.
10.  Kompensasi, berusaha menutupi kekurangan atau kegagalannya dengan cara-cara lain yang dianggapnya memadai.

11.  Sublimasi, mengalihkan tujuan lain yang mempunyai nilai sosial. 

RESENSI BUKU TUHAN MAHA ASYIK (MENGENAL TUHAN LEBIH DEKAT)

Riwayat Kepengarangan
            Agus Hadi Sudjiwo (lahir di Jember, Jawa Timur, 31 Agustus 1962; umur 54 tahun) atau lebih dikenal dengan nama Sujiwo Tejo adalah seorang budayawan Indonesia. Ia pernah mengikuti kuliah di ITB, namun kemudian mundur untuk meneruskan karier di dunia seni yang lebih disenanginya. Sempat menjadi wartawan di harian Kompas selama 8 tahun lalu berubah arah menjadi seorang penulis, pelukis, pemusik dan dalang wayang. Selain itu ia juga sempat menjadi sutradara dan bermain dalam beberapa film seperti Janji Joni dan Detik Terakhir. Selain itu dia juga tampil dalam drama teatrikal KabaretJo yang berarti "Ketawa Bareng Tejo". Dalam aksinya sebagai dalang, dia suka melanggar berbagai pakem seperti Rahwana dibuatnya jadi baik, Pandawa dibikinnya tidak selalu benar dan sebagainya. Ia seringkali menghindari pola hitam putih dalam pagelarannya.
Kuliah di jurusan Fisika masuk tahun 1980 dan jurusan Teknik Sipil Institut Teknologi Bandung, hasrat berkesenian Sujiwo mulai berkembang. Saat itu Sujiwo Tejo menjadi penyiar radio kampus, main teater, dan mendirikan Ludruk ITB bersama budayawan Nirwan Dewanto. Sujiwo Tejo juga menjabat Kepala Bidang Pedalangan pada Persatuan Seni Tari dan Karawitan Jawa di Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun 1981-1983 dan pernah membuat hymne jurusan Teknik Sipil ITB pada Orientasi Studi tahun 1983. Sujiwo Tejo yang mendalang wayang kulit sejak anak-anak, mulai mencipta sendiri lakon-lakon wayang kulit sebagai awal profesinya di dunia wayang dengan judul Semar Mesem (1994). Ia juga menyelesaikan 13 episode wayang kulit Ramayana di Televisi Pendidikan Indonesia tahun 1996, disusul wayang acappella berjudul Shinta Obong dan lakon Bisma Gugur. Pergumulannya dengan komunitas Eksotika Karmawibhangga Indonesia (EKI), memberinya peluang untuk mengembangkan dirinya secara total di bidang kesenian. Selain mengajar teater di EKI sejak 1997, Sujiwo Tejo juga memberikan workshop teater di berbagai daerah di Indonesia sejak 1998. Berlanjut pada tahun 1999, Tejo memprakarsai berdirinya Jaringan Dalang. Tujuannya adalah untuk memberi napas baru bagi tumbuhnya nilai-nilai wayang dalam kehidupan masyarakat masa kini. Bahkan pada tahun 2004, Sujiwo Tejo mendalang keliling Yunani. Pada tahun 1998, Sujiwo Tejo mulai dikenal masyarakat sebagai penyanyi (selain sebagai dalang) berkat lagu-lagunya dalam album Pada Suatu Ketika. Video klip "Pada Suatu Ketika" meraih penghargaan video klip terbaik pada Grand Final Video Musik Indonesia 1999, dan video klip lainnya merupakan nominator video klip terbaik untuk Grand Final Video Musik Indonesia tahun 2000. Kemudian diikuti labum berikutnya yaitu Pada Sebuah Ranjang (1999), Syair Dunia Maya (2005), dan Yaiyo (2007).
Selain dalang, Sujiwo Tejo juga aktif dalam menggelar atau turut serta dalam pertunjukan teater. Antara lain, membuat pertunjukan Laki-laki kolaborasi dengan koreografer Rusdy Rukmarata di Gedung Kesenian Jakarta dan Teater Utan Kayu, 1999. Sujiwo Tejo juga menjadi Sang Dalang dalam pementasan EKI Dancer Company yang bertajuk Lovers and Liars di Balai Sarbini, Sabtu dan Minggu, 27-28 Februari 2004. Selain teater, Sujiwo Tejo juga bermain dan menjadi sutradara film. Sujiwo Tejo juga menggarap musik untuk pertunjukan musikal berjudul Battle of Love-when love turns sour, yang digelar 31 Mei sampai 2 Juni 2005 di Gedung Kesenian Jakarta. Hasil pertunjukan karya bersama Rusdy Rukmarata (sutradara & koreografer) dan Sujiwo Tejo (komposer musik) akan digunakan untuk membiayai program pendidikan dan pelatihan bagi anak-anak putus sekolah yang dikelola oleh Yayasan Titian Penerus Bangsa.Sujiwo Tejo juga menyutradarai drama musikal yang berjudul 'Pangeran Katak dan Puteri Impian' yang digelar di Jakarta Convention Center tanggal 1 dan 2 Juli 2006.
Dr. H. M. Nur Samad Kamba, MA, kelahiran Pinrang, Sulawesi Selatan tanggal 23 September 1958 ini merupakan dosen pengampu Tasawuf pada Jurusan Tasawuf Psikoterapi (TP) Fakultas Ushuluddin UIN SGD Bandung sejak 1998-sekarang dan ahli Tasawuf dengan menjadi Ketua Jurusan TP periode 1998-2000. Pria yang akrab di sapa Kamba ini jenjang pendidikan formal yang telah ditempuhnya; S1, S2 dan S3 dari  Universitas al Azhar Cairo dengan mengambil jurusan Aqidah & Filsafat. Selama menjadi tenaga pengajar di Fakultas Ushuluddin UIN SGD Bandung sejak tahun 1998, Ustadz pernah menjabat sebagai Ketua Jurusan TP periode 1998-2000 dan Sekretaris Pusat Pengembangan Studi Luar Negeri IAIN SGD tahun 1998.  Untuk pengalam mengajar, Ustadz pernah mengampu mata kulaih; Tasawuf/Maqamat-Ahwal pada jurusan TTP Fakultas Ushuluddin UIN SGD Banudng tahun 1998, Tasawuf dan Metodologi Terbuka    pada Pascasarjana IAIN Sumatra Utara    tahun 1998-1999, Agama dan Mistisisme    pada Pascasarjana UIN SGD Bandung tahun 2010, Ilmu Huduri pada jurusan TP Fakultas Ushuluddin UIN SGD Bandung tahun 2010, Tasawuf pada jurusan Sosiologi Fakultas Ushuluddin UIN SGD Bandung tahun 2010, Tasawuf Kontemporer, Psikologi Tasawuf, Struktur Insan    pada jurusan TP Fakultas Ushuluddin UIN SGD Bandung tahun 2011 dan Dialog dan Resolusi Konflik    pada Program studi Religious Studies Pascasarjana UIN SGD Bandung tahun 2011. Untuk menunjang keahliannya, Ustadz telah mengikuti beberapa Pelatihan profesional, diantaranya; Fellowship Postdoctorate yang diselenggarakan oleh CIDA/Depag dari bulan Oktober 1996 sampai Maret 1997, Prajabatan Golongan III oleh LAN dari 6 Februari sampai 7 Maret 1998.
Mengenai karya tulisa yang berasal dari bahan ajar kuliah, diantaranya; Tasawuf/ Maqamat-Ahwal (Diktat S1) tahun 1998, Tasawuf dan Metodologi Terbuka (Diktat S2) tahun 1998-1999, Agama dan Mistisisme (Diktat S2) tahun 2010, Ilmu Huduri (Diktat S1) tahun 2010, Tasawuf (Diktat s1) tahun 2010, Tasawuf Kontemporer (Diktat S1) tahun 2011, Psikologi Tasawuf (Diktat S1) tahun 2011, Struktur Insan (Diktat S1) tahun 2011, Dialog dan Resolusi Konflik (Diktat S2) tahun 2011; Penelitian "Konsep Madrasah Terpadu" Kelompok Kerja Ditbinrua Ditjen Binbaga Islam tahun 1998 dengan sumber dana dari Ditbinrua; Soal Buku dan Jurnal, Fatawa Majlis al Ulama al Indunisi (Terjemah Indonesia-Arab) terbitan CENSIS tahun 1996, Universitas al Azhar: Problem Modernisasi Pendidikan Islam terbitan PERTA tahun 1997, Al Shirath al Wasath terbitan CENSIS tahun 1997, Abdul Karim Amrullah wa Atsaruhu fi al-Harakat al-Tajdidiyah al-Islamiyah bi Minangkabau terbitan CENSIS tahun 1999, Al Sirah al Nabawiyah (Terjemah Arab-Indonesia) terbitan Adigna Media Utama tahun 1999, Syabakat al Ulama (Terjemah Indonesia-Arab) terbitan CENSIS tahun 1999, Al Muhammadiyah wa Nahdlatul Ulama fie Nazhri al Ulama bi al Syarq al Awsath terbitan Mimbar Studi tahun 1999, Islam Sufistik (Terjemah Arab-Indonesia) terbitan Mizan tahun 2001; Untuk Makalah, The Basis of Malamatiya Thought and Its Field of Implementation yang diselenggarakan oleh Indonesia-Canada Higher Education Project tahun 1997, Penyunting (editor) Arabic Language Advisor di Jurnal Studia Islamika dari tahun 1998 sampai 1999; Pembicara pada Konferensi, Seminar, Lokakarya dan Simposium pada; International Conference on ISLAM  AND THE WEST, Islam abad yang digelar oleh World Muslim League (Rabithal Alam Islami) dengan materi al Islam wa al Gharb: Muhawalat li al Tafahum tahun 2004, Seminar Nasional Tasawuf yang digelar oleh Pusat Kajian Tasawuf/ STAIN Surakarta dengan materi Tasawuf dan Psikologi tahun 2005, World Conference of Al-Azhar Alumni, Kuala Lumpur yang digelar oleh Kerajaan Malaysia – Universiti al Azhar (Mesir) dengan materi al Turats wa Falsafat al Tarikh tahun 2008, International Seminar on Building World Prasce and Civilization by Improving the Quality of Education and Economic basic of Ethics and Morals yang digelar oleh  IAILM Suryalaya, Jawa Barat dengan materi Ilmu Makrifat dan Prinsip-Prinsip Epistemologi tahun 2010; Pengabdian pada masyarakat; Menjabat Direktur Program Dirasat Islamiyah kerjasama Universitas al-Azhar Mesir-IAIN Jakarta di Jakarta tahun 1999, Menjabat Ka Bag. TU Pimpinan pada Biro Umum Sekretariat Jenderal Departemen Agama di Jakarta tahun 2000, Menjabat Atase Pendidikan dan Kebudayaan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Cairo dari tahun 2001 sampai 2004, Menjabat Konsul/ Atase Haji Konsulat Jenderal RI di Jeddah dari tahun 2005 sampai 2009, Anggota Tim Penguji Seleksi Calon Non Beasiswa ke Universitas al Azhar Mesir di Jakarta tahun 2010, Anggota Delegasi RI pada Dialog Lintas Agama RI-Libanon II di Malang, Jawa Timur tahun 2011, Anggota Badan Wakaf Indonesia di Jakarta tahun 2011 dan Anggota Tim Penyusunan Peraturan Menteri Agama Tentang Pelaksanaan Wakaf Benda Tidak Bergerak dan Benda Bergerak Selain Uang di Kemenag Jakarta tahun 2011; Peran dalam kegiatan mahasiswa; menjadi Pemateri Ta’aruf Rekrutmen Anggota Tasawuf Psikoterapi Fakultas Ushuluddin Bandung tahun 2010, Penguji Sidang Disertasi Doktor pada Fakultas Sastra dan Humaniora Universite Abdelmalek Essaadi, Tetouan, Maroko an. Dedi Wahyudin di Universite Abdel Malik Essaadi, Tetouan-Maroko tahun 2010, Pemmbimbing dalam penyusunan Tesis Mahasiswa an. Ace Najmudin, 2.209.9.0161  Pascasarjana UIN SGD Bandung tahun 2011,  Penguji  Sidang Disertasi Doktor pada Fakultas Sastra dan Humaniora Universite Abdelmalek Essaadi, Tetouan, Maroko an. Muhammad Hariyadi di Universite Abdel Malik Essaadi, Tetouan-Maroko tahun 2011, Penguji Sidang Disertasi Doktor pada Fakultas Sastra dan Humaniora Universite Abdelmalek Essaadi, Tetouan, Maroko an. Muhammad Ali Hanafi di Universite Abdel Malik Essaadi, Tetouan-Maroko tahun 2011; Berkat keuletan, pengabdiannya pernah meraih penghargaa dari; PT Asuransi Jiwasraya/ UNHAS tahun 1990, KBRI Cairo tahun 1993, PPMI Mesir tahun 2004, Departemen Luar Negeri RI tahun 2005 dan HIMA-J TAPSI tahun 2010. Dalam keorganinasian prefesi pernah menjbat sebagai; Ketua Divisi Luar Negeri di Badan Wakaf Indonesia (BWI) tahun 2011 dan Anggota Bidang Kerjasama Luar Negeri di Majlis Ulama Indonesia (MUI) tahun 2011.
Sinopsi
            Berbicara mengenai Tuhan sering kali dikaitkan dengan agama. Banyak yang mengeklaim Tuhan dengan berbagai definisi. Manusia yang sok pintar mengartikan Tuhan. Padahal tidaklah demikian. Tuhan tak terdefinisikan. Lewat pemikiran dan dialog anak kecil dalam buku ini, pembaca diingatkan tentang Tuhan. Melalui cerita wayang, marhaen, cacing, zat, gincu, Antareja, nyawa, ketombe, komat-kamit, tersesat, diri, dan lainnya buku berbagi cara memahami Tuhan yang penuh cinta, kekal dan abadi. Buku ini terdiri dari sejumlah cerita. Contoh dalam cerita “Wayang”, manusia diibaratkan sebagai wayang dan Tuhan sebagai dalangnya. Wayang dimainkan dalang. Semua terjadi atas kehendak dalang. Namun, tidak demikian dengan wayang orang karena setiap pemain punya kehendak. Guyonan, celetukan, dan lain-lain, hasil improvisasi pemain sendiri di luar kehendak dalang (halaman 17). Namanya juga Tuhan, maka kekuasaan-Nya absolut. Tiada yang terjadi di luar kehendak-Nya. Manusia menjalani kehendak Tuhan, baik melalui kehendaknya sendiri maupun kehendak Tuhan secara langsung (halaman 19). Sering kali manusia menganggap kemauannya sebagai kehendak Tuhan. Ketidakmampuan manusia memahami kehendak Tuhan sering menimbulkan masalah. Tidak ada mekanisme yang dapat digunakan memastikan bahwa kehendak manusia bukan milik Tuhan dan sebaliknya. Namun setiap kebaikan adalah kehendak Tuhan. Kebiasaan yang dilakukan terus-menerus seolah sudah menjadi karakter. Hal ini bukan berarti tidak bisa berubah. Mindset atau cara pandang sangat ditentukan pengalaman dan pendidikan. Pemaknaan akan Tuhan ditentukan cara pandang yang dipengaruhi lingkungan, pengalaman, dan pendidikan. Namun, hal itu sering kali terpengaruhi oleh mainstream. Padahal, mainstream terbentuk karena indoktrinasi. Mainstream memengaruhi mindset, termasuk dalam perilaku keberagamaan. 
Tulisan “Diri” menceritakan orang gila yang berbicara sendiri. Bukan orang yang berbicara terus seperti Ny Christine yang selalu  mengomeli anaknya. Namun, dalam keheningan orang yang dianggap gila itu masih berbicara, walau tidak melalui mulut. Hal ini dianalogikan bahwa dalam hening manusia menyatu dengan jati diri sesungguhnya. Ini tada lain cermin cahaya Tuhan (halaman 111). Tuhan mewujudkan diri-Nya dalam jiwa manusia sebagai cermin. Tuhan yang Mahabaik. Ketika manusia memandang cermin, bukan kaca yang dilihat, namun dirinya. Ketika manusia berbuat baik pada orang lain, sejatinya dia berbuat baik untuk diri sendiri. Demikian juga ketika dia menyakiti sesama, justru menyakiti diri sendiri. Jadi, wajar saja jika orang menyakiti diri sendiri dianggap gila. Namun, lebih gila lagi jika agama dan atas nama Tuhan menjadi alasan untuk membenci dan menyakiti (halaman 114). “Mengingat” menjadi cerita penutup buku Tuhan Maha Asyik lewat perbincangan Christine, Dharma, Samin, dan Parwati. Manusia harus selalu mengingat Tuhan agar tidak terperangkap dalam cara pandang yang terbentuk dari nafsu diri. Mengingat Tuhan adalah kembali kepada kesejatian diri, di mana Tuhan terasa begitu dekat. Semakin dekat kepada Tuhan, manusia tambah termanifestasi pula sifat-sifat kebaikan dan kesempurnaan-Nya pada dirinya. Ini salah satu fungsi agama yang juga esensial. Agama membimbing umat manusia kembali pada kesejatian diri masing-masing (halaman 230). 
Segi Non Fisik
            Tuhan Maha Asyik buku karya sujiwo tejo dan Dr MN. Kamba, membuat intuisiku melayang. Entah bagaimana pengarang membuat tulisan dalam buku ini seperti mempunyai nyawa, membaca buku ini aku menjadi ingat sewaktu kecil ketika membaca buku dongeng, karena dalam buku tersebut banyak sekali cerita yang begitu sulit untuk “dimaknai” tetapi sangat enak untuk dibaca sembari santai. Jalan cerita dalam buku ini pun sangat menarik banyak sekali analogi yang harus dicerna oleh otak, seakan membaca buku ini adalah untuk melatih otak kita “berfikir”. Bahasa yang digunakan dalam  buku ini pun tergolong mudah untuk dipahami, jelas saja karena pengarang buku ini sudah sangat berpengelaman dalam hal “mengarang buku”. Manfaat bagi pembaca sangat banyak sekali seperti dengan membaca buku ini pembaca dituntut untuk berfikir hitung-hitung sembari “latihan berfikir”, kemudian buku ini juga mengajarkan kita tentang bagaimana mengenali Tuhan secara lebih “dekat” dan Lewat kisah-kisah singkat dan berbagai analogi yang mengena, buku ini mengajak kita meluaskan hati dan pemikiran untuk menampung ide tentang ketuhanan dan keagamaan yang lebih lapang, dan tentunya yang lebih asyik.
Segi Fisik
            Membahas mengenai segi fisik buku Tuhan Maha Asyik, saya berfikir  tidak ada yang harus dikomentari dari buku ini, karena dari sampul depannya pun desainnya sudah menarik dan penuh dengan warna yang membuat penasaran bagi yang melihat buku ini, kemudian dalam buku tersebut pun diselipkan lukisan karya sujiwo tejo. Kualitas cetakan sudah baik dan jenis kertasnya pun sudah bagus. Bentuk dan jenis huruf yang digunakan dalam buku tersebut sangat unik, karena jenis huruf yang digunkan tidak monoton dan sangat beragam.

Penutup
            Budayawan Sujiwo Tejo merilis buku barunya yang ia beri judul 'Tuhan Maha Asyik'. Ditulis bersama akademisi Nur Samad "Buya" Kamba, Sujiwo mengurai beberapa kisah tentang keberagaman agama, dalam bahasa yang ringan dan mudah dipahami. Kisah-kisah yang ditulis Sujiwo dan Buya Kamba menjelaskan bahwa Tuhan sangat asyik ketika tidak dikurung paksa dalam penamaan-penamaan dan pemaknaan-pemaknaan. Menurut keduanya, Tuhan tidak bisa dipikirkan dan dikonsepsikan. Alih-alih, Tuhan harus ditemukan dan penemuan itulah yang membuat pengalaman itu menjadi sangat asyik. Semakin banyak manusia mengonsepsikan Tuhan, maka akan semakin jauh Tuhan itu. Pasalnya, konsepsi ini tunduk kepada rekayasa alam pikiran kita. Buku Tuhan Maha Asyik menggambarkan konsep mengenal Tuhan secara menyeluruh (holistik), yang notebene membutuhkan pengkajian dan pemahaman mendalam, namun di buku ini di sajikan secara "renyah" dan mudah dimengerti dalam bentuk dialog kanak-kanak sehari-hari, dan kontekstual dengan kebudayaan masyarakat Indonesia, khususnya budaya spiritual. Lewat kisah-kisah singkat dan berbagai analogi yang mengena, buku ini mengajak kita melu askan hati dan pemikiran untuk menampung ide tentang ketuhanan dan keagamaan yang lebih lapang, dan tentunya yang lebih asyik. Siapapun dan apa pun latar belakang paham keagamaannya, selama masih punya hati, akan mendapatkan pencerahan dalam pemahaman keagamaan dan akan memandang bahwa keberagaman dalam beragama adalah suatu keniscayaan yang sebetulnya mampu menciptakan keindahan dan harmoni dalam kehidupan dari buku ini. Buku yang asyik karena membicarakan "wajah Tuhan" dengan cara memuliakan Tuhan Yang Maha Asyik dan menyeret kita untuk menthawafi pengalaman Tuhan yang mengasyiki hamba-hamba-Nya.

Buku ini hadir di saat yang tepat, di saat bangsa ini dilanda dengan intoleransi, saling membenci, antar sesama anak bangsa yang acapkali membajak 'Tuhan' untuk politik jangka pendek dan kepentingan golongan tertentu. Buku ini bisa menjadi cermin yang akan mengoreksi bahkan menampar sikap beragama kita. Intinya saya mengajak untuk mengenal Tuhan secara lebih dekat dengan cara membaca buku ini.

RESENSI BUKU IHWAL MENULIS (MENULIS MAMPU MENGUBAH DUNIA)

Riwayat Kepengarangan
            Dr. Aceng Hasani, M.Pd. dilahirkan di kampung Menes, Desa Menes, Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang pada tanggal 20 Agustus 1967. Dia menamatkan pendidikan Sekolah Dasar pada tahun 1980 di SDN 2 Menes. Melanjutkan pendidikan ke SMPN Menes pada tahun 1983. Pendidikan Menengah ditempuh di sekolah keguruan yaitu SPG PGRI Pandeglang, lulus pada tahun 1986. Dari SPG, pendidikannya dilanjutkan ke perguruan tinggi swasta di Banten. Dia mengambil Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Untirta. Dia tercatat sebagai mahasiswa angkatan pertama pada jurusan tersebut dan lulus pada bulan April 1991. Pada tahun 2000, tepatnya bulan September, dia baru memperoleh kesempatan melanjutkan ke program magister dan lulus pada bulan Agustus 2003 dari Program Studi Pendidikan Bahasa, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Jakarta.
            Pengalaman bekerja di bidang pendidilan dilakukannya sejak menjadi mahasiswa pada semester V. Mulai tahun 1988, dia mengajar di SMA Banten Raya Pandeglang. Tahun 1990, mengajar pula di SMA Negeri Menes. Jadi, ditiga sekolah dia mengabdikan diri sebagai tenaga pengajar sampai dengan tahun 1992. Selain itu, di perguruan tinggi dia juga tercatat sebagai tenaga dosen. Pada tahun 1991, dia mulai mengajar pada Jurusan Diksatrasia FKIP Untirta sampai sekarang. Pada tahun 1991 s.d 1992, dia juga sempat menjadi pengajar di Fakultas Syariah Matlaul Anwar.
            Sejak mahasiswa semester IV, dia sering menulis artikel pada Suara Daerah dan Suara Guru (Majalah Pendidikan Kanwil Depdikbud Jawa Barat dan Majalah Pendidikan Pusat). Selama bekerja, dia juga sering menulis, baik tulisan hasil penelitian maupun tulisan hasil bacaan. Adapun tulisan yang sudah dipublikasikan adalah sebagai berikut.
Analisis Maksim Dalam Percakapan Anak pada Saat Bermain, Perkembangan Ujaran Anak Usia 1,3 sampai dengan 1,6 Tahun, Analisis Intertekstual Wacana, Interferensi Bahasa di Banten dalam Era Otonomi Daerah, Gender dan Strategi Pembelajaran Bahasa, Buku Ihwal Menulis dan Pemertahanan Bahasa Jawa Dialek Banten sebagai Minoritas di Desa Teluk Kec. Labuan Kab. Pandeglang. Itulah seklumit Riwayat Penulis.

Sinopsi  
            Menulis merupakan keterampilan berbahasa. Dari empat keterampilan berbahasa, menulis termasuk keterampilan yang kompleks, keterampilan yang melibatkan kemampuan teknik menulis dan kemampuan kebahasaan. Kompleksitas inilah yang menyebabkan kegiatan menulis sedikit dikuasai orang daripada kegiatan keterampilan berbahasa yang lain. Banyak orang berkata, sesungguhnya di otak ini banyak ide, tetapi sulit sekali menuangkannya ke dalam bentuk tertulis. Begitu juga banyak mahasiswa merasa kesulitan untuk menyelesaikan tugas akhir dalam bentuk menulis skripsi. Kesulitan-kesulitan yang dihadapi banyak orang tersebut, termasuk di antaranya para mahasiswa. Buku ini sangat bermanfaat sekali untuk mahasiswa yang kesulitan untuk menuangkan gagasannya ke dalam sebuah tulisan. Buku ini mengajarkan dari mulai Dasar-Dasar Menulis, Berbagai Jenis Karangan, Pengembangan Paragraf, Surat Menyurat dan Penulisan Teknik Notasi Ilmiah. Buku Ihwal Menulis ini dijadikan sumber rujukan oleh mahasiswa.
Segi Non Fisik
Awalnya saya memang terpaksa membeli buku ini karena diwajibkan oleh dosen supaya mahasiswa yang mengontrak mata kuliah menulis untuk mempunyai buku Ihwal Menulis. Saya kira buku ini sulit untuk dipahami, setelah saya baca sampai tuntas dugaan saya ternyata salah, karena buku ini sangat mudah dipahami. Isi dalam buku ini sangat sederhana mudah dipahami namun sangat jelas isinya. Bahasa yang digunakan pun sangat sederhana, jadi buku ini sangat “enak” untuk dibaca. Namun sayangnya dalam buku tersebut banyak contoh dari materi yang sudah dipaparkan tidak menggunakan tulisan pengarang langsung melainkan mengambil tulisan orang lain, seperti dalam halam 79 yang mengambil contoh makalah dari T. Fatimah Djajasudarma dengan judul “Menyikapi Kosakata Bahasa Asing dalam Berbahasa Indonesia”. Buku ini juga unik karena diselipkan peta dan gambar untuk memudahkan pembaca memahami materi. Dilihat dari isi buku tersebut bahwa sudah diketahui pengarang memiliki pengalaman yang cukup lama dalam hal “menulis”. Banyak sekali manfaat ketika selesai membaca buku tersebut diantaranya adalah pembaca mampu mengetahui Dasar-Dasar Menulis, Berbagai Jenis Karangan, Pengembangan Paragraf, Surat Menyurat dan Penulisan Teknik Notasi Ilmiah. Pembaca mungkin akan mampu dan merasa mudah menuangkan gagasannya ke dalam sebuah tulisan ketika memahami dan mempelajari isi yang ada di buku tersebut.

Segi Fisik
            Sampul depan buku yang berjudul Ihwal Menulis dengan warna merah, hitam, putih dan perpaduan ungu yang lebih dominan, membuat kurang menarik dan kurang sinkron ditambah sampul belakang yang berwarna hijau tua dengan perpaduan warna putih dibagian tulisannya terkesan kumal dan sudah lama, padahal buku ini barunya pun kondisinya sudah seperti itu kondisinya. Saya berfikir kebanyakan pembaca--sebelum membaca, lebih banyak melihat sampulnya terlebih dahulu, meskipun isinya belum tentu baik asalkan tampilan luarnya (sampul) itu menarik dijamin pembaaca akan memilihnya. Jadi pengarang jangan sampai meremehkan hal kecil seperti desain sampul yang terkesan sepele namun sangat besar efeknya. Kualitas cetakan sudah memadai karena dari awal halaman samapai akhir halaman tulisan yang tertera dalam buku tersebut semuanya jelas (tidak ada yang buram), kertas yang digunakannya pun sudah menggunakan kertas standar yang biasanya digunakan oleh buku-buku lain. Bentuk huruf dan jenis huruf saya berfikir bahwa dalam buku tersebut terlalu monoton tidak ada variasi yang mengakibatkan pembaca merasa bosan. Tapi dinilai dari keseluruhan buku ini sudah sangat baik untuk dibaca dan dipelajari.


Penutup

            Keterampilan menulis merupakan bagian dari keterampilan berbahasa. Keterampilan menulis perlu dipelajari selama dua semester oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Untuk itu, sebelun mempelajari materi perkuliahan mahasiswa harus mengetahui berbagai materi mengenai menulis dan saya menyarankan untuk para mahasiswa yang bericta-cita menjadi penulis profesional atau sekadar ingin mampu menulis untiuk membaca dan mempelajari  buku Ihwal Menulis sampai tuntas, Karena buku tersebut sangat bermanfaat sekali apabila dibaca dan dipelajari secara serius.

RESENSI BUKU KAMBING DAN HUJAN (KISAH CINTA YANG MENGGUGAH JIWA)

Riwayat Kepengarangan
Mahfud Ikhwan lahir di Lamongan, 7 Mei 1980. Lulus dari Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Gadjah Mada, tahun 2003 dengan skripsi tentang cerpen-cerpen Kuntowijoyo. Menulis sejak kuliah, pernah menerbitkan cerpennya di Annida, Jawa Pos, Minggu Pagi, dan di beberapa buku antologi cerpen independen.Bekerja di penerbitan buku sekolah antara 2005–2009 dan menghasilkan serial Sejarah Kebudayaan Islam untuk siswa MI berjudul Bertualang Bersama Tarikh (4 jilid, 2006) dan 4terbit adalah Ulid Tak Ingin ke Malaysia (2009) dan Lari Gung! Lari! (2011). Novelnya yang ketiga, Kambing dan Hujan, memenangkan Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2014. Selain menulis dan menjadi editor, sehari-harinya menulis ulasan sepak bola di belakang gawang dan ulasan film India di dushman duniya ka, serta menjadi fasilitator dalam Bengkel Menulis Gerakan Literasi Indonesia (GLI).

Sinposis
Betapa kehidupan selalu penuh ironi. Nah ini, hubungan Mif dan Fauzia ditentang karena mereka berbeda (beda kelompok agama). Sebuah pertemuan tak disengaja di dalam bus membuat Mif dan Fauzia bertukar alamat surel. Mereka memang berasal dari satu desa yang sama, Centong, tapi tak pernah akrab waktu kecil. Bukan hal yang mengherankan, lantaran Mif adalah anak tokoh Masjid Utara, sedangkan Fauzia anak tokoh Masjid Selatan. Saat itu Mif, yang sudah lulus kuliah di Yogya, bekerja sebagai editor buku. Sementara itu, Fauzia kuliah di Surabaya dan sebentar lagi wisuda. Diawali sebuah surel dari Mif, hubungan dan kisah cinta di antara mereka berdua terjalin.Sejak awal Mif dan Fauzia tahu, tak akan mudah memperjuangkan cinta mereka. Awalnya, Mif dan Fauzia sama-sama mengira bahwa Pak Kandar (bapak Mif) dan Pak Fauzan (bapak Fauzia) adalah dua orang tokoh agama Islam yang berseberangan dan saling membenci. Yang pertama tokoh Pembaharu, yang terakhir tokoh Nahdliyin. Mif dan Fauzia kemudian sepakat untuk pulang ke Centong dan berbicara pada orang tua terkait rencana mereka untuk menikah.Tak dinyana, dari cerita yang dituturkan Pak Kandar dan Pak Fauzan, dari sebendel surat-surat lama yang disimpan Pak Fauzan, serta cerita dari Pak Anwar belakangan, Mif dan Fauzia masing-masing akhirnya mengetahui sejarah dua kelompok muslim yang berseberangan di Centong sejak tahun 1960-an dan sejarah hubungan Is dan Mat. Mereka akhirnya tahu, bahwa Is dan Mat bukanlah dua orang yang saling membenci. Bukan, mereka adalah dua orang sahabat bagai saudara yang terpaksa berada di posisi yang berseberangan, dan terpaksa tak saling menyapa selama puluhan tahun.Tahulah kini Mif dan Fauzia, yang harus mereka hadapi bukan sekadar dua orang tua yang telah lama tak saling menyapa, melainkan dua kelompok penduduk Centong: orang Utara dan orang Selatan."Dan, apa salahnya berbeda? Tuhan menciptakan makhluk juga berbeda-beda... Dan, mereka memang menjadi dua orang yang berbeda. Tapi, karena apa yang kalian lakukan--atau apa yang kalian tidak lakukan--anak-anak kalian jadi dua orang yang berbeda sekaligus saling ingin melenyapkan." (Anwar, hlm. 338)
***


Segi Non Fisik

Wajar jika saya awalnya mengira novel pemenang pertama sayembara menulis novel DKJ 2014 ini hanya berisi perjuangan sepasang manusia memperjuangkan cinta terlarang akibat pertentangan dua keluarga. Wajar jika fantasi saya langsung melayang ke kisah Romeo & Juliet dengan keluarga Capulet vs Montague-nya. (Judul novel ini pun memiliki pola.) Eh, ternyata, saya terkelabui. Kisah cinta terlarang Mif & Fauzia hanyalah lapisan epidermis dari organisme novel ini. Atau, ia hanyalah pembuka kaleng yang digunakan oleh penulis untuk membuka kaleng berisi kisah sejarah Centong dan dua kelompok yang berseteru, yang menempatkan Is dan Fauzan sebagai pentolan. Kisah Mif & Fauzia hanya diceritakan sepotong-sepotong, di bagian awal, pertengahan, dan akhir. Sebagian besar novel ini berisi sejarah dan dokumentasi dinamika sosial penduduk Centong. Oleh karena itu, tak adil bila saya menggugat penulis, mengapa Mif dan Fauzia, tiba-tiba memiliki keinginan menikah, padahal hubungan mereka tak banyak dibahas. Apakah saya menyesal karena terkelabui? Tidak, malah saya menjadikan buku ini salah satu favorit saya. Saya bersyukur karena penulis memfokuskan ceritanya pada sejarah kultural dan sosial Centong yang kompleks, yang nantinya memengaruhi hubungan Mif dan Fauzia. Saya bersyukur karena novel ini tak jadi roman yang sekadar berisi percintaan terlarang dua manusia.
Ketika membaca kalimat demi kalimat yang mengalir lincah dan dapat memerangkap rasa penasaran saya (meski saya sudah tahu sejak awal kalau kisahnya akan berakhir bahagia dan tidak ada teka-teki eksplisit yang minta dipecahkan) akan bagaimana nantinya hubungan Is dan Mat berakhir. Saya tahu kalau mereka akan berdamai, tapi bagaimana caranya? Lalu, apa sebenarnya yang menyebabkan mereka berdua terlihat saling membenci? Apakah sesederhana alasan cinta segitiga Is-Yatun-Mat di masa lalu? Nah, itulah yang bikin novel ini menarik. Cara penulis memvisualisasikan setiap kejadian di Centong sungguh hidup dan "dekat", membuat saya seolah menjadi saksi mata langsung atas sejarah Centong. Dinamika kehidupan beragama penduduk Centong sangat menarik dikaji. Bagaimana awalnya mereka beragama sekaligus menyembah pohon yang disebut kukun kawin. Bagaimana tradisi orang-orang tegalan kala masa menanam dan panen. Bagaimana desa santri itu, yang awalnya semua kegiatan agama berpusat di satu masjid--yang nantinya disebut Masjid Selatan--setelah kemunculan Cak Ali dan para pengikutnya, kemudian bercabang dua. Kelompok Muhammadiyah di Utara dan NU di Selatan. Bagaimana penulis mengeksplorasi detail kejadian yang berpengaruh terhadap dinamika orang Centong. Bagaimana penulis dengan piawai menyelipkan humor (yang banyak terdapat di bagian kisah masa remaja Is dan kawan-kawan) dalam roman yang kadang bikin terharu ini. Meski penulis menggambarkan bahwa kedua kelompok di Centong itu sangat bertentangan, ada elemen-elemen yang secara malu-malu menyatakan bahwa sebenarnya mereka merindukan untuk bersatu. Tampaklah dari narasi di halaman 263-265, yang mengatakan, "Tidak ada enaknya terdapat dua hari raya di desa sekecil Centong. Sungguh. Jika ditanya, semua orang, baik orang Selatan maupun orang Utara, akan bilang tidak suka. "Penulis sendiri menghadirkan elemen yang sama di antara dua kelompok itu, mungkin sebagai simbol bahwa sebenarnya mereka adalah satu: sama-sama umat Muslim. Nama guru Is, yang menggerakkan pembaharuan, bernama Cak Ali. Nama salah satu tokoh yang memengaruhi pemikiran Mat, yang menentang pembaharuan, bernama Ali juga (Ali Qomaerullaeli). Meski kisah ini berpusat pada sosok-sosok lelaki (Is, Mat, Cak Ali dan para pengikutnya, Pak Kamituwo dan kerabatnya), penulis menunjukkan bahwa sekalinya perempuan diberi kesempatan bicara, ia mampu membalik keadaan sedemikian rupa. Salah satu adegan favorit saya adalah ketika Bu Sri, ibu Mif, menyarankan putranya untuk meminta bantuan Pakde Anwar.
"Pakdemu itu... suaminya... Bude Siti. Bude Siti... tak lain... adalah adik Pak Fauzan. Jadi... anakku... cah ngganteng... Pakde Anwar-mu itu... sekaligus juga... Paklik Anwar-nya Fauzia." (Bu Sri, hlm. 277-78)
"... seorang ibu tak akan bisa membiarkan anaknya menyelesaikan masalahnya sendirian. Ia selalu ingin ambil bagian. Semampunya. Sebisanya." (Bu Sri, hlm. 278)
Kisah memang berpusat pada Is dan Mat, serta Mif dan Fauzia, tapi penulis tetap memberi porsi yang pas untuk mengeksplorasi tokoh-tokoh lainnya, seperti Pak Anwar. Barangkali, tokoh favorit saya adalah Pak Anwar. Berkat dia, akhirnya dua orang yang sekian lama tak saling menyapa bisa punya alasan dan keberanian untuk saling berbicara lagi. Pak Anwar adalah simbol pemersatu. Di masa lalu, ia pun tak segan menyeberang dari Utara ke Selatan, karena niat tulusnya untuk mengajar di madrasah. Lalu, sebagai orang Utara, ia menikah dengan Bu Siti, orang Selatan. Namun memang tak mudah jadi orang yang sekaligus Utara dan Selatan seperti Pak Anwar. Ia tak diterima dua-duanya, dan akhirnya minggat ke Brunei Darussalam. Tindakan ini bisa dianggap pengecut, sih. Tapi setidaknya, Pak Anwar menebus kepengecutannya itu dengan mempertemukan kembali Is dan Mat.
***

Segi Fisik
Lebih menarik lagi ketika penulis menakdirkan Is dan Mat, yang awalnya sahabat, terpaksa berada di pihak yang berseberangan. Itulah awal munculnya istilah "kambing dan hujan", seperti petikan yang saya tulis di bagian awal resensi ini. Meski demikian, saya susah menangkap mengapa kambing dan hujan dijadikan simbol dua hal yang berseberangan, yang susah dipertemukan. Apakah karena kambing tak suka hujan? Lalu, kenapa kover novel ini bergambar sebotol susu kambing ?. Ternyata memang kambing tak suka hujan, seperti saya baca di sini. Sementara itu, makna gambar sebotol susu di kovernya, mungkin seperti yang coba diterjemahkan oleh Sri Hadriana di artikel yang pernah saya baca. Mahfud menguraikan kisah yang sebenarnya berat dengan bahasa yang encer, sederhana, mudah dicerna, seperti susu yang berwarna putih itu. Namun, sarat nutrisi. Kambing dan hujan mewakili kelompok NU dan Muhammadiyah di Centong. Oleh karena saya sebelumnya belum tahu bagaimana sejarah munculnya dua kelompok tersebut, apa yang diceritakan oleh novel ini memberi pengetahuan baru bagi saya. Kisah NU dan Muhammadiyah ini mengingatkan saya akan pertentangan Katolik dengan Protestan yang menyebabkan keduanya menjadi agama berbeda. Yang satu kelompok "tua", yang lain kelompok "muda" alias pembaharu. Kualitas cetakan yang lumayan bagus dengan warna yang menarik di bagian cover, kemudian jenis kertas yang digunakan pun sudah memadai, sayangnya bentuk tulisan yang kurang menarik dan terkesan monoton (membosankan). Jika di dalam novel ini ditambahkan gambar mungkin akan lebih menarik perhatian pembaca, karena novel ini isinya sangat padat tanpa ada celah.

Penutup

Tak salah jika novel ini menjadi pemenang pertama sayembara menulis novel DKJ 2014. Dibandingkan novel pemenang kedua dan ketiga, novel ini sangat mencolok unggulnya. Namun, ada teman yang bilang kalau Ulid Tak Ingin ke Malaysia lebih menarik ketimbang Kambing & Hujan. Baiklah, saya tak tahu benarkah itu sebelum membaca Ulid sendiri. Terima kasih, Mahfud Ikhwan, yang telah mengarang novel Kambing dan Hujan membuat pengetahuan saya bertambah mengenai NU dan Muhammadiyah. Terakhir, novel ini harus dibaca dan sangat layak untuk dibaca. 

“ANALISIS FILM THE NEW RULES OF THE WORLD” (PEMBANGUNAN DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

Globalisasi pada saat ini bukanlah hal yang dianggap tabu lagi, melainkan globalisasi menjadi hal yang dijadikan sebagai acuan di dalam hidup berbangsa karena cakupannya adalah dunia. Mengingat adanya globalisasi, tentu tidak terlepas dari adanya modernitas sebagai kerangkeng besi yang menguatkan serta juga merampas kehidupan bermasyarakat bagi yang tertinggal. Modernitas dijadikan sebagai alat dalam menguasai dunia dengan terbentuknya sistem kapitalis  yang dikatakan oleh weber yakni:
1.    adanya usaha-usaha ekonomi yang diorganisir dan dikelola secara rasional berdasarkan prinsip-prinsip ilmu pengetahuan serta berkembangnya pemilikan/kekayaan pribadi;
2.    berkembangnya produksi untuk pasar
3.    produksi untuk massa dan melalui massa
4.    produksi untuk uang;
5.    adanya antusiasme, etos dan efesiensi yang maksimal yang menuntut pengabdian manusia kepada panggilan kerja.
Masyarakat kapitalis memandang manusia terutama sebagai pekerja dan tidak peduli apapun yang menjadi pekerjaan mereka, itulah yang menjadi tingkah laku yang menonjol dalam spirit kapitalisme. Dengan demikian yang kaya akan semakin kaya dan yang miskin akan semakin miskin yang merupakan ketimpangan di dalam kehidupan modernitas. Bagi masyarakat miskin mereka lebih cenderung untuk memilih kehidupan penuh resiko untuk memperoleh penghasilan meskipun kecil. Inilah yang bisa disebut dengan sistem kapitalisme di dalam modernitas kehidupan yang juga dinaungi oleh adanya struktur di dalamnya, yakni struktur memiliki kapasitas ganda yang dalam hal ini bisa menjadi kendala tetapi juga bisa member peluang karena di dalam struktur mengandung tiga aspek yaitu makna, norma dan kekuasaan.
Adanya sistem produksi dan perkembangan teknologi menimbulkan dua kelas masyarakat, yaitu kelas yang terdiri dari sejumlah kecil orang yang memiliki modal sehingga menguasai alat-alat produksi yang biasa kita sebut sebagai kelas borjuis dan kelas yang terdiri dari orang-orang yang tidak memiliki modal atau disebut juga dengan kelas proletar. Mereka yang memiliki modal dan alat-alat produksi menentukan upah para pekerja. Penentuan upah itu melewati suatu perjuangan tarik menarik antara pemilik modal dengan pekerja. Kemenangan sudah barangtentu mudah dipastikan di tangan pemilik modal. Pemilik modal dapat hidup lebih lama tanpa pekerja sementara kaum pekerja tidak mungkin hidup lebih tanpa pemilik modal. Sesuai dengan apa yang ada di dalam film documenter ini, yakni para pekerja atau disebut juga dnegan buruh yang bekerja dengan penghasilan yang kecil, jumlah jam kerja yang begitu lamanya dan fasilitas tempat bekerja yang begitu mencekam dan penuh resiko mereka kerjakan demi mengasilkan sebuah rupiah namun hasil pekerjaan yang mereka lakukan dirampas habis-habisan oleh pemilik modal demi mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Dengan demikian pemilik modal dapat menambah kekayaannya dari keuntungan usaha industry, sedangkan pekerja tidak memperoleh keuntungan maupun memiliki modal yang bisa menambah penghasilan dari keterlibatannya dalam kerja industry. Menurut marx, kapitalisme melalui konsep pemilikan pribadi dimana manusia jadi rebut-rebutan memiliki alam sebagai sumber kehidupan sebanyak-banyaknya. Manusia bersaing dengan manusia lainnya untuk memperbanyak harta milik pribadinya. Karena memiliki lebih banyak berarti lebih berkuasa, dan melalui kuasa dapat memiliki lebih banyak lagi. Kekuasaan disini mencakup baik kekuasaan ekonomis maupun kekuasaan politis. Dengan demikian sistem kapitalisme menciptakan manusia-manusia yang serakah.
Indonesia merupakan Negara yang miskin dimana para pemiliki modal dominasi adalah bukan dari tanah sendiri melainkan para investor asing menanamkan modal di Indonesia yang dijadikan sebgai alat dalam menumbuhkan keuntungan maupun kekayaan bagi individu dan bangsanya sendiri. Indonesia dijadikan sebagai alat dalam permainan ekonomis dan politis terlihat jelas sejak dimulainya rezim soeharto yang memberikan kebebasan bagi para investor asing untuk menanamkan modal di Indonesia. Sebenarnya hal itu menjadi boomerang bagi bangsa Indonesia sendiri apalagi jelas dengan adanya politik dari IMF, bank dunia yang mengiming-imingi Indonesia akan sejahtera dengan memberikan sumbangsi kepada imf dan bank dunia. Juga dengan rezim soeharto yang tidak bersih dan adil di dalam pemerintahan bangsa Indonesia karena pada saat itu peminjaman uang yang dilakukan untuk kesejahteraan rakyat Indonesia malah beberapa persennya uang yang di pinkamkan oleh bank dunia tersebut di rampas oleh pihak-pihak penguasa yang ada dalam rezim tersebut. Dengan demikian semakin kacaulah bangsa Indonesia dibawah tataran kehidupan dalam rezim soeharto sehingga ketika pada masa presiden soeharto mengundurkan dirinya, itu merupakan hal yang tidak semata-mata menghapuskan permasalahan yang ada di Indonesia dengan adanya keterlanjutan dalam kemiskinan, kurangnya pendidikan, buta huruf, gizi buruk, lemahnya kesehatan dan lain sebagainya.
Hutang di Indonesia semakin bertambah, dengan demikian para pekerja harus lebih bekerja dengan lebih keras lagi namun uang yang di dapatkan hanyalah setengah tak terbilang bisa untuk mencukupi kehidupan, karena kerasnya hidup semakin terasa dengan kemiskinan yang melonjak tinggi. Mereka harus bekerja untuk institusi atau Negara demi membayarkan hutangnya kepada bank dunia. Para investor yang menanamkan modal di Indonesia menjadikan masyarakat Indonesia sebagai alat untuk menggeruskan mereka dengan upah yang kecil untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Terlihat pada brand-brand yang ternama dimana para buruh yang bekerja semata-mata mereka bekerja untuk para penguasa yang serakah. Disinilah terlihat jelas dimana masyarakat dijadikan sebagai objek oleh Negara.
Dalam hal ini tidak adanya pembangunan dan pemberdayaan masyarakat Indonesia yang seharusnya dapat dilakukan oleh pemerintah. Karena mengingat tingkat kemiskinan di Indonesia yang semakin begitu marak dan memprihatinkannya. Kurangnya kebebasan masyarakat dalam melakukan suatu kegiatan atau potensi yang akan dikembangkannya. Karena masyarakat hanya bekerja di bawah naungan kelas penguasa demi kepentingan penguasa itu sendiri. Mengingat pemerintahan yang amburadul dengan adanya korupsi malah semakin amburadulnya tatanan kehidupan masyarakat yang seharusnya merekalah yang menjadikan masyarakat untuk hidup lebih sejahtera. Karena masyarakat hanya dijadikan sebagai objek oleh tangan penguasa dalam berbagai program dan proyek pembangunan.
Pemberdayaan adalah upaya untuk membangun daya itu sendiri dengan membangkitkan kesadaran akan potensi yang dimiliki serta berupaya untuk mengembangkannya. Dalam upaya pemberdayaan ini, diperlukannya usaha untuk meningkatkan taraf pendidikan, derajat kesehatan, sumber-sumber kemajuan ekonomi seperti modal, teknologi, lapangan kerja dan pasar. Pemberdayaan sebagai proses ataupun sebagai tujuan pada dasarnya akan memunculkan keberanian pada individu maupun kelompok. Kondisi semula yang cenderung hanya keadaan, dengan adanya pemberdayaan ini menjadikan masyarakat akan lebih berani bertindak untuk merubah keadaan. Dari pihak pemberdaya harus beranjak dari pendekatan bahwa masyarakat tidak dijadikan objek dari berbagai program dan proyek pembangunan, akan tetapi merupakan subjek dari upaya pembangunannya sendiri. Untuk itu maka dalam pemberdayaan masyarakat harus mengikuti pendekatan yang terarah dilaksanakan oleh masyarakatr yang menjadi kelompok sasaran dan menggunakan pendekatan kelompok.  
Bangsa Indonesia tidak bisa luput dari fenomena pembangunan, cepat atau lambat, besar atau kecil proses pembangunan perlu dilakukan.  Berbagai cara untuk mecapainya yaitu dengan pemanfaatakan secara optimal berbagai aspek sumber daya manusia dan sumber daya alam yang ada, sehingga memiliki peran penting dalam lingkup lokal maupun global. Untuk membantu dunia ketiga termasuk kemiskinan, tidak hanya diperlukan bantuan modal dari Negara maju tetapi Negara itu disarankan untuk meninggalkan dan mengganti nilai-nilai tradisional dan kemudian melembagakan demokrasi politik. Di dalam pembangunan, pemberdayaan masyarakat perlu dilakukan dengan cara sebgai berikut:
1.    menciptakan potensi masyarakat agar lebih berkembang. Mengingat masyarakat memiliki potensi yang dapat dikembangkan
2.    dengan adanya potensi yang dikembangkan oleh masyarakat, maka diperlukannya sebuah peluang yang dapat memberikan motivasi pada masyarakat untuk memberdayakan potensi yang ada di dalam pemanfaatan peluang tersebut.
3.    Memberdayakan juga berarti melindungi. Dalam proses pemberdayaan ini, pemberdayaan harus dicegah yang lemah menjadi bertambah lemah.
4.    Bantuan intelektual yaitu berupa pemberian pengetahuan yang berguna. Bantuan ini jelas lebih baik dari pada bantuan dalam bentuk barang.



Dengan demikian, bahwa hakikat pemberdayaan masyarakat merupakan proses yang dilakukan agar masyarakat memiliki keleluasan dalam menentukan plihan-pilihan dalam hidupnya. Masyarakat dapat berpartisipasi dalam berbagai kegiatan pembangunan seperti kegiatan pembangunan desa misalnya. Dengan itu, mereka dapat menggerakkan segala potensinya yang dimiliki untuk mewarnai hasil pembangunan yang diharapkan akan lebih sesuai dengan kebutuhan nyata masyarakat.“ANALISIS FILM THE NEW RULES OF THE WORLD”

Variabel Kognitif

Variabel
Sub. Variable/dimensi
Indikator
Cognitive Field (Kurt Lewin)
Kepribadian dan psikologi sosial
Tingkah laku, tekanan kejiwaan, tantangan, permasalahan yang dihadapi, kebutuhan.
Cognitive Development (piaget)
Perkembangan intelektual
Struktur (pola tingkah laku yang dapat diulang), isi (pola tingkah laku spesifik), fungsi (cara mencapai kemajuan intelektual; adaptasi dan organisasi)
Teori Benyamin S. Bloom
Taksonomi
Pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, evaluasi
Discovery Learning (Jerome Bruner)
Enactive, Iconic, Simbolik
Mempelajari sesuatu dengan memanipulasi objek, pembelajaran melalui gambaran, pembelajaran melalui represetasi pengalaman abstrak
Teori belajar bermakna Ausubel
Belajar bermakna dan belajar menghafal
Peserta didik mampu mengaitkan informasi baru dengan struktur kognitif